urb/an/tologi

catatan-catatan liris tentang detak sebuah kota

Pulang Kampung

Nak,
Ku ajak kau membuka pintu tua ini agar kau nikmati usapan angin pagi
Yang selalu memenuhkan hati dengan kerinduan akan datangnya hari.

Nak,
Ku ajak kau duduk di tepi sungai ini semoga kau masih mampu membayangkan
Saat ia mengalir deras dan riak beningnya melambungkankan nyali kami.

Nak,
Ku ajak kau mandi matahari agar kau nikmati perjuangan orang tua kami
Membongkar bongkah tanah berbatu menjadi kebun harapan.

Nak,
Ku ajak kau berbaring menghadap langit malam ini,
agar kau yakin tanganmu sanggup mencapai bintang.

Nak,
Kuajak kau ke surau gelap ini.
Agar tak kau puja-puji gemerlapnya fana.

Kau diam dan tenggelam dalam novel kusam ku,
Sampai kau lempar sebuah tanya,
Ayah, kemana nanti anakku kuajak pulang?
Ke mall dimana kita mencari poin dan kartu binatang itu?
Atau ke warung ayam goreng impor ini?
Atau ke pinggir jalan melihat mobil-mobil yang berdesakan?

Mari Nak,
Kuajak kau ke dasar hati.
Maka selalu pulanglah kesana,
Untuk bertemu segala kebijakan yang sesuai dengan jamanmu.

Brosot – Ngaliyan – Pondok Gede – Balikpapan Oktober 2010

Post Navigation